Alur Cerita

Setelah riset selesai, tentu ada langkah-langkah berikut yang harus dilakukan oleh pembuat film. Memang, segenap data dan fakta-fakta baru, akan menjadi awal rencana membuat film yang lebih matang. Semua data yang telah kita dapatkan saat riset kemudian akan kita coba susun dalam sebuah panduan yang akan memudahkan kita melakukan shoting nanti. Untuk itu ada serangkaian tahap yang bisa dijadikan pedoman.

Ketika orang ingin membuat film, tentu, ia ingin menyatakan ide apa yang ada dalam filmnya. Pembuat film, butuh, untuk mengungkapkannya kepada orang lain. Salah satunya adalah pemberi dana –orang yang akan mensponsori filmnya. Pihak sponsor ingin sekali tahu dan kemudian menilai, seperti apa ide yang dipunyai. Itu sebabnya, kita perlu membuat sebuah alur cerita. Bentuknya sangat sederhana. Hanya satu atau beberapa halaman kertas A4, yang singkat dan efektif, agar pihak pemberi dana bisa mengetahui ide, cerita macam apa yang akan disampaikan. Kenapa tidak perlu membutuhkan banyak lembaran? Setidaknya, kita harus berpikir bahwa, pihak pemberi dana adalah orang yang sangat sibuk, misalnya. Jadi bagaimana, dalam satu atau beberapa lembar saja, pihak pemberi dana secara langsung mengerti dan mengetahui apa yang menjadi ide dalam film kita.

Dengan kata lain, alur cerita adalah jabaran dan penjelasan dari apa yang ingin difilmkan. Alhasil, pemilihan dan deskripsi yang sederhana, dengan pilihan kata tepat, akan sangat membantu siapapun yang membaca. Pemilihan kata yang mudah divisualkan, sangat penting. Selektivitas untuk merangkai kata-kata yang mudah divisualkan akan memperlancar komunikasi pesan dari pembuat film. Pada sisi inilah alur cerita menjadi satu elemen yang sangat penting untuk dibuat. Ia menjadi bentuk operasional dari ide dan film statement film yang kita punyai. Barangkali, sangat sederhana. Makna yang muncul, tak ubahnya sebuah kontruksi dari cara berpikir dalam membuat film. Kenapa? Karena, pembuat film akan mencoba mendeskripsikan rencana besar dari film.

Seringkali terjadi, bahwa pembuat film menuliskan alur film menjadi sulit untuk dipahami. Kenapa? Satu hal yang menjadi faktor pemicunya adalah, ketika riset dilakukan, hasil data dan fakta yang didapat tidak utuh, hanya sepenggalsepenggal, sehingga manakala dirangkai, tidak menjadi satu kisah yang baik dan mudah dicerna. Barangkali itu hanya satu temuan. Pada temuan lain, seringkali alur tidak terbangun utuh dan menarik karena alur ceritanya ditulis dengan tidak lengkap. Belum terbaca, keinginan dan kejelasan dari pembuat film itu sendiri.

Alur cerita, adalah deskripsi dari film yang akan dibuat. Dari mana mengawali, menyodorkan persoalan, hingga mengakhiri film itu sendiri. Tidak mudah tentunya. Apakah demikian? Tidak selamanya menulis alur cerita itu menjadi sulit. Satu hal yang harus dimilikii oleh semua pembuat film adalah, data dan fakta macam apa yang sudah didapat. Merangkai alur, tak ubahnya menyusun data dan fakta dari hasil riset.

Alur cerita, tak ubahnya kerangka dasar dalam menyampaikan cerita dalam film. Tak dapat dihindari bahwa dalam film inti kisahnya terlebih dahulu harus dipegang. Mengetahui kerangka cerita secara utuh adalah sebuah prasyarat mutlak dalam mengembangkan film itu sendiri. Pembuat film akan tahu, cerita serta pendekatan-pendekatan macam mana yang dapat digunakan.

Kita akan mengetahui aktivitas subjek-subjek yang akan difilmkan, dari riset. Maka, kita bisa menyusunnya sebagai elemen dalam alur cerita. Kematangan riset, sudut pandang yang jelas dari pembuat film, akan memudahkan menulis alur film. Alur film tak ubahnya sebuah kemasan. Bagaimana kita bisa mengemas kisah, dengan segenap persoalan dan deskripsi utuh di dalamnya. Lantas, kita mengakhiri alur cerita tersebut, sesuai dengan apa yang telah dijadikan statement

filmnya.

Mencoba menulis alur film, bisa diawali dengan kemampuan berimajinasi. Bukan berarti berimajinasi, dengan mereka-reka kisahnya tanpa panduan. Dasar yang menjadi patokan adalah, bahan data dan fakta yang telah diperoleh. Dari materi itulah, pembuat film mengawali imajinasinya. Proses ini, tak ubahnya menyusun sebuah teka-teki, puzzle gambar. Pembuat film bisa memindah tiap sekuens, menggantikannya dengan yang lain, memutar urutannya, hingga menemukan kemasan alur yang paling mudah untuk dimengerti. Kerja imajinasi seperti ini, akan sangat membantu membandingkan alur-alur yang coba telah dipikirkan.

Misalnya, dari satu kerja mereka-reka data dan fakta, pasti akan melahirkan satu alur. Lantas, membalik-balikkan menjadi alur yang baru dan berbeda. Dan seterusnya. Kemampuan untuk menemukan dan mencoba membentuk beberapa pilihan alur, akan memberikan pengayaan dan inspirasi bagi pembuat film. Catatannya adalah, bagaimana pembuat film itu mempunyai data dan fakta dari riset sebanyak-banyaknya, dan rinci. Materi hasil riset tak ubahnya bahan-bahan mentah. Untuk itu, butuh olahan agar bisa menjadi lebih menarik. Alur, adalah hasil olahan itu.

Film biasanya akan dibangun dengan alur standar atau baku. Alur film dengan standar ini, biasanya akan diawali dengan sebuah deskripsi, pengenalan: lingkungan ataupun tokoh-tokohnya. Sejak awal, penonton sebisa mungkin dikenalkan dengan siapa (personal), atau siapa-siapa (multikarakter) yang berada dalam film. Pengenalan tokoh dan lingkungan menjadi penting. Sekuens-sekuens ini akan sangat membantu dalam mendeskripsikan persoalan-persoalan selanjutnya.

Ketika penonton sudah mengenal sebuah wilayah geografi ataupun tokoh-tokohnya, kemudian akan dikenalkan dengan persoalan macam apa yang ingin dikupas dalam film. Konflik-konflik situasional, yang pada akhirnya menciptakan perubahan kondisi ataupun perubahan tokoh-tokoh dalam film akan memberikan makna yang penting. Sekali lagi, harus diingat bahwa film dokumenter adalah upaya untuk meneguhkan kepercayaan orang. Peneguhan itu hanya bisa dicapai, manakala terdapat deskripsi perubahan kondisi dan situasi yang dihadapi oleh tokoh-tokohnya.

Setelah itu, biasanya film akan diakhiri dengan satu tawaran solusi atau tidak sama sekali. Sehingga, terserah nanti penonton yang akan menyimpulkannya. Untuk ending film, kebanyakan pembuat film menempatkan pernyataan-pernyataan khusus dari subjeknya. Bentuknya, bisa statement harapan, keinginan, ajakan atau yang lain. Bahkan, tak jarang film diakhiri dengan sikap pembuatnya sendiri.

Sederhananya adalah, ada tiga babakan baku. Dalam alur cerita, kita harus memahami bahwa film senantiasa akan ada awalan, isi dan akhir. Tiga bagian babakan ini, sudah tentu menjadi kerangka utama. Babak awal, akan berisikan bagaimana kita mampu mengenalkan, mendeskripsikan persoalan. Baik pengenalan tokoh, wilayah geografi dan suasana.

Setelah itu, kemudian akan dapat dimulai dengan bagaimana persoalan itu mempunyai dampak, mempunyai akibat. Kupasan, analisis dari setiap aspek dikenalkan di sini. Sampai pada akhirnya, ditawarkan serangkaian solusi-solusi yang memang menjadi sikap dari pembuat film itu sendiri. Untuk mampu menulis alur cerita yang matang, sudah tentu harus ada kejelasan sikap dari pembuatnya itu sendiri. Selama tidak terdapat kejelasan sikap pembuat, maka alur menjadi susah untuk dikerjakan.

Ibarat menuliskan ide dalam sebuah lembar, itu cara kerja alur. Bagaimana muncul persoalan, hingga akhirnya terdapat sejumlah penyikapan-penyikapan, ini yang menjadi intinya. Kertas kerja dalam alur cerita menjadi bagian yang penting. Sehingga, jangan pernah mengerjakan film, tanpa pernah membayangkan alur macam mana yang akan dipunyai.

Sekadar catatan, dari contoh di atas, maka, siapapun akan mengetahui arah dan apa yang ingin dimunculkan dalam film. Sebuah kisah masa lalu, dengan hutan yang masih terjaga, namun akhirnya hancur. Hancur, setelah ada penebangan yang terus menerus dilakukan. Bahkan, sampai menimbulkan akibat yang sangat mengancam.

Yakni, adanya korban dari banjir tanah longsor dari tebing pinggir hutan. Yang dulunya justru tak melahirkan ancaman. Kini, setelah tanaman banyak yang ditebang, ancaman itu bisa muncul setiap saat. Menciptakan kecemasan pada penduduk asli. Bahkan, pada sisi lain, sungai yang awalnya sangat jernih, kini sudah keruh. Ini akibat air tanah yang tak bisa ditahan oleh akar pohon yang sudah mati, dan langsung mengalirkan keruh air tanah ke sungai. Ancaman lain adalah, ketika banyak pohon sumber hidup masyarakat dan hewan, satwa di wilayah tersebut ditebang. Ancaman yang lebih menakutkan, tentunya.

Nampak bahwa, dari alur cerita itu, ada tawaran konflik. Konflik dengan elemen visual yang bisa direkam oleh kamera, gabungan dari gambar dan suara. Dengan mudah, akan dipahami alur tersebut. Konflik yang dengan mudah terbaca, dan menjadi daya tarik dari sebuah film. Mungkin, pertautan konflik-konflik ini, hanya diperoleh dari hasil riset yang detail. Maka, para pembuat film seharusnya sadar betapa pentingnya riset yang detail sebagai bagian penting dari isi alur film yang akan dibuat.

Sederhananya, alur cerita adalah sebuah lembar kerja yang sangat efektif dalam membangun kisah film dalam segenap aspeknya. Artinya, dalam alur cerita akan terungkap sebenarnya cerita yang akan divisualkan. Bukan saja dari pendekatan kreatif, tetapi juga telah membuka peluang bagi adaptasi teknis pembuatan itu sendiri. Dalam cerita, sudah tentu, akan terdapat alur –sekalipun singkat dan sederhana. Juga, akan tertangkap pula, konflik apa yang sebenarnya ingin disodorkan serta tema besar macam apa yang akan diuangkap lewat film, seperti kira-kira contoh di bawah ini.

Judul : Hutan Terakhir
Tema : Hancurnya sebuah wilayah hutan, akibat adanya penebangan liar
Tujuan/Pesan : Pengelolaan dan penebangan liar, menghancurkan wilayah hutan dan mengakibatkan bencana banjir
Cerita : Kegigihan masyarakat di Berau, dalam menjaga hutan dan tanah adat mereka secara bersama-sama
Bentuk : Multikarakter (wawancara anggota masyarakat)
Potensi Konflik : Ketika banyak sumber ekonomi hutan yang habis, kematian anggota masyarakat karena bencana banjir, akibat penebangan pohon-pohon hutan
Elemen : Footage video hutan di Berau, Kalimantan

Foto hutan di Berau Kalimantan

Kliping koran

Durasi : 40 menit, Format MiniDV (Betacam, atau Seluloid)

Dari deskripsi ide di atas, sebenarnya dapat ditulis alur cerita film yang sangat sederhana sebagai berikut:

“Hutan Terakhir”

Film ini akan diawali dengan kamera yang menangkap gambar hamparan lahan hutan dengan sisa-sisa pohon rusak dan tebangan pohon di satu wilayah Berau Kalimantan. Kemudian, beberapa orang penebang masih sibuk mengikat, dan menarik batang pohon yang telah dipotong menuju ke sungai.

Gambar berpindah, akan ditampilkan tebing yang longsor, di tepi wilayah hutan yang gundul. Detail-detail longsoran tanah akibat banjir, menimbun beberapa rumah penduduk yang ada di sekitarnya ditangkap kamera. Beberapa orang penduduk masih sibuk menggali timbunan tanah yang menutup rumah mereka. Tampak Pak Anjang diantara warga desa tersebut. Ia sedang sibuk bekerja sambil bercakap dengan para warga lain tentang apa saja yang harus mereka lakukan dalam mengatasi masalah mereka.

Film kemudian menampilkan suasana kantor kabupaten. Keramaian lalu lintas dan Pak Anjang serta warga desa berjalan memasuki kantor kabupaten. Beberapa staff di kantor bupati tampak hilir mudik.. Kemudian terlihat wajah-wajah penduduk yang bercerita tentang kondisi hutan sebelum ada penebangan, sampai akibat dari banjir yang mengakibatkan banyak orang meninggal. Selain itu, mereka juga akan mengisahkan, penebangan hutan, telah membuat sungai-sungai besar menjadi keruh. Sementara, sebelum adanya penebangan, dasar sungai bisa mereka lihat dari sampan-sampan yang ditumpangi. Pak Anjang menjelaskan maksud kedatangan mereka menghadap bupati. Kemudian cerita akan menampilkan hasil pertemuan mereka dengan bupati (dari hasil riset, bupati disana kurnag mendukung upaya pelestarian). Beberapa warga tampak kurang antusias dengan usaha mereka tersebut, mereka menjelaskan baaimana isyu yang beredar menyebutkan beberapa perusahaan pemotongan kayu yang ada di wilayah itu adalah miliki pak bupati. Namun pak Anjang menjelaskan bahwa mereka harus menempuh jalur birokrasi sesuai aturan hokum dan tidak serta-merta bertindak anarki.

Dan seterusnya…

Di akhir film akan ditampilkan penduduk yang mempunyai keinginan untuk mempertahankan tanah adat. Mereka menginginkan, tanah-tanah adat, makam leluhur, dan beberapa jenis pohon sumber kehidupan mereka, jangan sampai dirusak dan ditebang.
Dengan demikian, imajinasi pembaca (siapapun) sudah mampu membayangkan, film macam mana yang akan dikerjakan. Susunannyapun, terdiri dari serangkaian kata-kata yang membentuk kalimat sederhana. Sekuens demi sekuens, dan masing-masing senantiasa berkorelasi. Pilihan kata-kata yang akan ditulis, setidaknya mengandungi makna visual (yang mudah divisualkan). Sehingga, ketika dirangkai menjadi sebuah kalimat, dengan mudah akan tertangkap gambaran visualnya. Ini menjadi penting, karena, alur cerita adalah paparan awal dari film itu sendiri. Yang dibutuhkan adalah, segenap kejelasan. Semuanya menjadi jelas terlebih dahulu, sebelum melakukan langkah kerja berikutnya.




%d blogger menyukai ini: