Riset Film

Pendahuluan: Membuat Film Dokumenter, Mencari Keteraturan dan Pola-pola atas Fenomena Sosial yang Ada di Sekitar Kita

Lepas dari segala perdebatan mengenai definisinya, film dokumenter menurut saya adalah sebuah usaha untuk mencari pola-pola; keteraturan-keteraturan tentang fenomena yang ada di sekitar kita. Sebagai sebuah film, keteraturan-keteraturan atau pola-pola tersebut kemudian dirangkai menjadi urutan cerita dalam medium audio visual. Jika kita melihat ke sekeliling kita, banyak fenomena sosial yang ada dan bersifat acak, sebagai contoh dari kasus film “Kepala Sekolahku Pemulung” ada berbagai fakta yang sebelum film itu dibuat, seperti lepas satu sama lain; kemiskinan, guru yang berpenghasilan rendah, stigma tentang pemulung, kepala sekolah yang menjadi pemulung, istri yang sakit keras, rumah yang tidak layak huni, dsb. Tugas seorang pembuat film dokumenterlah untuk merangkai fakta-fakta acak tersebut menjadi sebuah urutan cerita dalam bahasa gambar dan suara. Mana yang lebih dulu dimunculkan? Kemiskinan, profil pemulung, profil kepala sekolah atau yang lainnya?

Lalu jika otoritas dalam penyusunan cerita yang berdasarkan realita tersebut ada pada pembuat film, apakah objektivitas dalam film dokumneter sama sekali tidak ada? Objektivitas dalam film dokumenter itu tetap ada tapi kita tidak dapat menganalogikannya dengan objektivitas yang ada pada ilmu eksakta bahwa 2+2=4. Walau bagaimana pun film dokumenter seperti didefinisikan oleh John Grierson adalah ‘creative treatment of reality’ dan kerja kreatif dalam ranah seni manapun sangat kental dengan nuansa personal: subjektivitas. Tapi jangan dulu terjebak untuk membuat film sesuka hati karena film dokumenter pada akhirnya akan berhadapan dengan pemirsa (audience) yang belum tentu memiliki subjektivitas yang sama dengan pembuat film, karena itu subjektivitas dalam dokumenter juga harus memperhatikan nilai-nilai universal tentang kemanusiaan, kegigihan perjuangan, cinta kasih dan sebagainya. Dengan kata lain subjektivitas dalam dokumenter harus dapat dipertanggungjawabkan, harus bisa diterima oleh logika orang kebanyakan, minimun oleh target audience yang ingin kita jangakau.

Untuk membantu pembuat film mencari ‘keteraturan’ (subjektivitasnya) diperlukan usaha sistematis untuk mengumpulkan data dan kemudian merangkainya. Sistematika itulah yang ingin saya coba jabarkan dalam tulisan ini.

Riset dalam Produksi Dokumenter

Pada sebuah pelatihan praproduksi dokumenter, Rhoda Gruer, tutor yang mengajar saya mengatakan bahwa ada tiga hal penting dalam sebuah produksi dokumenter yaitu: riset, riset, dan riset. Mengapa Rhoda Gruer begitu yakin tentang pentingnya peranan riset dalam produksi dokumenter, hingga dia mengucapkannya tiga kali? Kira-kira itu pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di benak saya setelah saya selesai mengikuti kegiatan pelatihan. Kurang lebih lima tahun setelah saya mengikuti pelatihan itu, sedikit demi sedikit saya mulai memahami betapa riset itu memang sangat penting dalam setiap fase kerja dokumenter; tahap praproduksi, produksi dan pascaproduksi. Tulisan ini saya buat dengan maksud untuk berbagi pengalaman kepada pembaca tentang betapa pentingnnya riset dan pentingnya kesadaran pembuat film untuk mencari keteraturan-keteraturan dan sistematika berpikir dalam setiap tahapan produksi dokumenter.

Sebelum lebih jauh, saya akan mengawali tulisan ini dengan memberikan definisi dari riset itu sendiri. Berdasarkan kamus Oxford, riset (research) adalah the systematic investigation into and study of materials, sources, etc., in order to establish facts and reach new conclusions atau jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah sebuah investigasi dan studi sistematis atas materi, sumber data, dll untuk menetapkan fakta dan mencapai kesimpulan baru. Ada tiga hal yang saya tangkap dari definisi tersebut. Dengan kata lain saya menganggap bahwa riset adalah serangkaian:

1. Kegiatan sistematis.
2. Materi dan sumber data.
3. Fakta dan kesimpulan.

Ide Film: Wahyu Atau Asumsi Awal? Riset dalam Tahapan Pencarian Ide Film

Setiap film dokumenter berangkat dari ide. Pertanyaannya, apakah ide itu datang begitu saja, atau dari sebuah kegiatan sistematis? Perlukah kita membuat riset untuk mendapatkan ide? Berdasarkan pengalaman saya terlibat dalam pelatihan film dokumenter yang diselenggarakan oleh In-Docs, banyak peserta yang datang ke pelatihan dengan ide yang tidak spesifik, kebanyakan dari mereka datang dengan data-data yang masih mentah sangat terbuka untuk dipertanyakan dari berbagai aspek. Tidak jarang peserta pelatihan datang dengan ide besar seperti kemiskinan, kegigihan, perjungan, atau dengan tema bombastis seperti perjuangan masyarakat melawan kapitalisme. Apakah ide-ide itu salah? Tidak juga, namun ide yang masih mentah dan sangat terbuka bisa menyulitkan kita dalam tahapan-tahapan pembuatan film dokumenter berikutnya.

Ide-ide yang terlalu luas dan sulit untuk dijabarkan dalam film, muncul karena ide-ide tersebut tidak diolah, akibatnya ide tersebut hanya akan menjadi pisau tumpul yang sulit digunakan untuk memotong. Mengapa itu terjadi? Banyak pembuat film pemula menganggap bahwa ide itu seperti wahyu yang datang begitu saja. Padahal menurut saya ide itu merupakan sebuah asumsi awal atas sebuah gejala atau fenomena sosial atau alam yang merupakan hasil dari pengalaman dan atau pengamatan yang pernah dialami si pembuat film. Sebagai sebuah asumsi awal, ide film seharusnya ditajamkan lagi dengan melakukan serangkaian kegiatan pengamatan atau wawancara agar ide yang masih begitu luas menjadi lebih sempit dan lebih tajam. Ini penting untuk dilakukan karena dalam kebanyakan kasus, film dokumenter akan terkait dengan beberapa keterbatasan seperti durasi tayang ataupun masalah pendanaan.

Banyak pembuat film pemula menganggap bahwa riset itu adalah kegiatan yang rumit, karenanya mereka menghindari kegiatan ini. Padahal pada tahap munculnya ide sekalipun sudah merupakan sebuah hasil dari kumulasi pengalaman sehari-hari yang menjelma menjadi sebuah ide. Ide dalam kadar tertentu adalah asumsi awal atas sebuah pola, sebuah ketaraturan yang ingin kita sampaikan melalui film dokumenter. Dengan kata lain ide merupakan hasil riset yang bersifat sementara; hasil dari proses sistematis yang seringkali tidak disadari oleh pembuat film. Sebagai contoh: munculnya ide film ‘Suster Apung’ merupakan buah dari serangkaian pengamatan sang pembuat film selama berinteraksi dengan Ibu Rabiah yang kemudian menjadi tokoh dalam film tersebut. Saya yakin bahwa munculnya ide untuk membuat film tentang kegigihan seorang perawat di kepulauan terpencil itu tidak datang begitu saja, melainkan sebagai buah dari proses pengamatan dan interaksi yang berlangsung selama beberapa waktu.

Jadi berhentilah menunggu wahyu di kamar mandi dan mulailah merangkai berbagai fenomena yang ada di sekitar kita, carilah keteraturan, hubungan sebab akibat yang menghubungkan satu gejala dengan gejala lainnya. Sekali lagi ide bukanlah wahyu yang datang begitu saja, ide merupakan pemikiran yang muncul dari berbagai hal yang kita lihat langsung (dari hasil pengamatan dan wawancara) atau tidak langsung (dari bahan bacaan ataupun tontonan).

Walaupun tahap menentukan ide sering dianggap mudah, namun pada kenyataannya selama saya mengikuti berbagai pelatihan pembuatan film, seringkali terjadi perdebatan yang alot dalam menentukan ide. Mengapa demikian? Karena ide haruslah solid dan sebisa mungkin tidak berubah pada tahapan-tahapan berikutnya. Dan, untuk mencapai ide dengan kriteria di atas haruslah ditunjang dengan data-data yang lengkap dan cara berpikir yang logis serta memiliki nilai-nilai universal.

Riset dalam Tahap Praproduksi Dokumenter: Menajamkan Ide dan Membuat Desain Produksi

Setelah ide didapat, asumsi kita peroleh, dan keteraturan-keteraturan mulai dapat kita petakan, apa yang selanjutnya kita lakukan? Mulailah dengan membuat pertanyaan pertanyaan yang terkait. Buatlah pertanyaan-pertanyaan seperti: Mengapa bapak memulung? Sejak kapan memulung? Kenapa bapak memulung dan bukan melakukan pekerjaan yang lain? Berapa uang yang bapak peroleh dari hasil memulung? Apakah bapak memulung setiap hari? Jika ya, dari pukul berapa hingga pukul berapa?

Meminjam cara kerja ilmuan sosial, terutama antropologi, riset merupakan kegiatan sistematis yang tidaklah linear, namun bersifat siklus seperti digambarkan dalam ilustrasi berikut:

Dimulai dengan memilih proyek atau menetukan ide, seorang peneliti lalu mengajukan beberapa pertanyaan yang terkait dengan ide atau ketertarikannya sebelum kemudian pergi untuk mengumpulkan data lapangan. Setelah data-data terkumpul seringkali muncul pula pertanyaan-pertanyaan baru sehingga proses kembali bergulir pada mengajukan pertanyaan. Lalu setelah data-data yang lebih kaya terkumpul, dibuatlah semacam analisa sementara yang kadang-kadang memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya. Begitulah proses terus berputar seperti yang ditunjukkan oleh garis tegas. Sampai akhirnya seorang peneliti akan berhenti untuk merefleksi diri dan menulis.

Sebagai seorang pembuat film dokumenter, siklus di atas juga dapat digunakan dalam mencari data dan membuat kesimpulan sementara. Pembuat film akan terus berputar-putar dalam lingkaran sampai akhirnya merasa cukup untuk keluar dan menuliskan naskan film. Naskah film, walaupun dalam dokumenter tidak bersifat ajek (fixed) namun dapat dijadikan panduan dalam melakukan shooting. Adegan-adegan apa yang sebaiknya muncul dalam film, siapa tokoh-tokoh kunci, siapa tokoh pendukung, pertanyaan apa yang harus ditanyakan ketika dilakukan perekaman wawancara dan lain sebagainya.

Selain penting dilakukan karena mendukung alur cerita, riset dalam masa pra produksi juga dapat dijadikan sumber pengetahuan untuk kepentingan manajemen produksi seperti jadwal kerja dan anggaran pengeluaran. Kapan waktu yang tepat untuk memulai shooting, apakah tokoh-tokoh yang akan muncul pasti ada di tempat? Di mana saja aktivitas tokoh kunci berlangsung? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang harus dijawab ketika menyusun jadwal shooting. Sedangkan dalam penyusunan bujet, riset juga membantu untuk membuat alokasi dana. Berapa dana yang diperlukan untuk menyewa kendaraan? apakah kita perlu membeli bensin untuk bahan bakar genset? Berapa kru yang diperlukan dengan medan shooting yang berbukit-bukit? Apakah kita perlu menyewa pelindung air untuk kamera? Atau pertanyaan-pertanyaan lain yang terkait dengan manajemen produksi dan pendanaan.

Dalam skala yang lebih besar siklus di atas juga memperlihatkan bahwa membuat sebuah film bukanlah akhir dari tujuan seorang pembuat film. Sangat memungkinkan setelah satu proyek selesai seorang pembuat film akan kembali mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru; itu berarti muncul ide untuk proyek film berikutnya. Atau dalam beberapa kasus, seorang pembuat film juga tidak hanya memikirkan bagaimana kita menyelesaikan sebuah film, tapi lebih dari itu, kepada siapa film akan dipertontonkan dan dengannya seorang pembuat film mencari jawaban atas pertanyaan mengapa film itu dibuat? Untuk mendorong sebuah kebijakan publik? Menjadi inspirasi bagi orang lain, atau ‘sekadar’ menjadi sarana menghibur penonton?

Riset Visual dan Fixing Sebelum Shooting: Mengumpulkan Data Visual dan Memastikan Segala Sesuatu Sebelum Shooting

Sebelum shooting dilakukan, ada satu tahapan penting yang juga menjadi bagian dari riset yaitu mengumpulkan data-data visual dan memastikan segala sesuatu di lapangan sesuai dengan jadwal shooting dan alur cerita. Dua kegiatan tersebut biasa disebut dengan istilah Riset Visual dan Recce (yang juga sering disebut fixing).

Riset visual sebetulnya dapat dilakukan berbarengan dengan riset awal ketika seorang pembuat film pertama kali datang ke lokasi shooting. Namun karena seringkali terjadi perubahan di lapangan, riset visual lebih baik dilakukan menjelang dilakukan shooting agar suasana yang kita amati kurang lebih sama dengan pada saat shooting nantinya. Tahap riset visual dilakukan untuk memberikan gambaran kepada kru lain (terutama kamerawan) untuk mengenal tampilan visual dari daerah, aktivitas, ataupun tampilan dari tokoh-tokoh yang akan muncul dalam film. Karena itu riset visual dapat memanfaatkan teknologi kamera digital yang murah dan mudah dioperasikan. Jepretan dari kamera digital dapat membantu kita memberi gambaran secara visual kepada anggota tim lain yang nantinya akan terlibat dalam masa produksi. Dari gambaran visual tersebut akan muncul pertanyaan-pertanyaan ataupun ide-ide baru yang sebelumnya mungkin tidak dapat terungkap melalui bahasa lisan atau tulisan. Pada tahap ini buatlah foto sebanyak mungkin dan galilah cerita di balik masing-masing foto tersebut. Secara teknis perlu juga diperhatikan hal-hal seperti di mana lokasi yang paling pas untuk mengambil gambar pemandangan? Apakah bangunan-bangunan yang akan di-shooting menghadap ke barat? Atau ke timur? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang biasanya akan muncul ketika berdiskusi dengan kamerawan.

Untuk kenyamanan, beberapa orang sutradara akan memilih untuk membuat foto dalam format landscape karena format ini memungkinkan kamerawan untuk mulai memikirkan framing dari kegiatan ataupun tempat-tempat dilaksanakannya shooting. Foto dalam bentuk portrait mungkin memiliki nilai estetis yang lebih tinggi, namun karena televisi ataupun layar bioskop memiliki bentuk yang cocok dengan landscape maka format ini lebih diutamakan untuk digunakan.

Sejalan dengan riset visual, seorang pembuat film juga sebaiknya memastikan segala sesuatu sesuai dengan jadwal. Pada tahapan ini pembuat film akan memastikan janji-janji wawancara atau kesediaan narasumber untuk diambil gambarnya. Pada intinya kegiatan ini memastikan segala sesuatu berjalan dengan lancar. Perlu diperhatikan bahwa dalam produksi film dokumenter, seringkali terjadi perubahan-perubahan mendadak. Pada tahap inilah segala perubahan tersebut ditampung, diinformasikan pada anggota kru yang lain, dan dipecahkan bersama-sama.

Seorang pembuat dokumenter yang baik harus dapat merespons secara cepat perubahan-perubahan yang terjadi di lapangan. Seorang pembuat dokumenter juga harus terbuka akan perubahan-perubahan yang mungkin terjadi di lapangan. Walaupun jadwal sudah dibuat berdasarkan riset yang baik, dalam beberapa kasus seringkali terjadi perubahan baik yang didorong oleh faktor alam ataupun faktor-faktor lainnya. Kadangkala keputusan-keputusan besar dan pelik seperti mencari subjek pengganti bahkan memindahkan lokasi shooting harus diambil.

Tahap Shooting (Perekaman Gambar): Mengumpulkan Data Audio Visual, Menerjemahkan Data Berbentuk Tulisan Menjadi Data Berbentuk Gambar dan Suara

Setelah ide dirumuskan, shooting script sudah dibuat, bujet sudah disetujui, dan jadwal shooting sudah disusun, tahapan berikutnya dari proses pembuatan film dokumenter adalah melakukan pengambilan gambar. Tahap ini merupakan tahap yang sangat penting dan membutuhkan energi dan stamina yang tinggi karena tahap ini merupakan perpaduan antara kerja kreatif dengan aktivitas fisik dan kerja teknis. Saya tidak akan mengulas hal-hal teknis lebih mendalam, namun bagi saya sebagai bagian dari sebuah kerja riset ini adalah tahap di mana serangkaian data yang berbentuk tulisan dan foto diterjemahkan menjadi bahasa gambar dan suara. Kegiatan ini menjadi kunci karena melalui kegiatan inilah rangkaian gambar dan suara akan kita rekam sebelum nantinya disusun menjadi cerita di meja editing.

Tahap ini akan membuktikan sejauh mana pemahaman persoalan dan kedalaman data yang dimiliki oleh sutradara pada tahap-tahap sebelumnya. Pada tahap ini juga akan teruji sejauh mana kemampuan dan ketajaman seorang sutradara fim dokumenter dalam menerjemahkan data-data yang dia miliki untuk kemudian dialih-formatkan ke dalam bahasa gambar. Seperti pada tahap riset visual, pada tahap ini juga diperlukan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan cepat apakah tim pembuat film akan berpegang teguh pada naskah film atau memungkinkan adanya perubahan-perubahan akibat perlunya penyesuaian dengan kondisi lapangan. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa sebisa mungkin perubahan tidak terjadi pada tatanan ide. Ini berangkat dari asumsi bahwa ide sudah dipikirkan dengan matang dan sudah ditunjang dengan data-data yang kuat. Kenapa ide harus dipegang teguh? Perubahan pada ide akan berakibat pada perubahan terhadap hal-hal lain dalam manajeman produksi dan komponen bujet. Kalaupun terjadi kesepakatan untuk merubah ide hal tersebut harus didiskusikan dengan anggota tim yang lain. Diperlukan argumentasi yang sangat kuat untuk melakukannya.

Sebagai kegiatan pengumpulan data, tahap ini juga memerlukan kecakapan sutradara ataupun asistennya untuk membuat catatan lapangan; gambar mana yang sudah diambil? Mana yang belum? Ini semua harus dicatat agar memudahkan pada tahapan-tahapan berikutnya. Hal yang juga penting adalah mulailah mengkategorisasi data visual dengan membuat catatan shooting dan memberi label pada kaset-kaset setelah habis direkam. Catatan shooting yang berupa checklist dari shooting script membantu untuk mengingat-ingat mana saja gambar yang sudah diambil mana yang belum dan juga mengingat-ingat jika ada perubahan tokoh yang diwawacarai dan sebagainya. Pelabelan kaset juga menjadi amat penting karena nantinya akan sangat berguna pada tahapan editing; di kaset nomor berapa kita merekam gambar matahari terbit? Di kaset mana kita merekam aktivitas guru di pulau Y? Begitu dan seterusnya.

Dalam tahapan ini, riset juga masih terus berlangsung, mungkin saja terjadi berbagai penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi di lapangan. Dalam tahap shooting, mungkin saja tokoh-tokoh baru muncul atau alur cerita berubah. Walaupun ide harus tetap dipegang teguh, mungkin saja data-data baru yang dapat menunjang ide muncul ketika pada tahap shooting. Karena itu sutradara dan anggota tim harus tetap membuka kemungkinan dan tetap melakukan riset pada tahap shooting untuk mencari alternatif-alternatif cerita yang mungkin masuk dalam film.

Tahap Editing: Mengorganisir Data Visual dan Merangkainya Menjadi Satu Runutan Cerita

Setelah 10 hari (atau mungkin lebih) mengambil gambar di medan yang berbukit-bukit dengan jam tidur yang sangat minim karena banyak aktivitas malam hari yang harus direkam, ternyata pekerjaan belum juga selesai karena tahap berikut yang akan sangat menguras tenaga sudah ada di depan mata. Katakanlah lebih dari 20 jam data audio visual dalam bentuk kaset harus diorganisir sebelum dipindahkan dalam format digital dan diedit menjadi satu rangkaian cerita.

Pada tahap pascaproduksi diperlukan ketahanan fisik dan mental yang cukup tinggi karena pada saat inilah data-data visual dalam bentuk kaset harus ditranskrip menjadi sebuah daftar gambar yang biasa disebut dengan logging. Logging form terdiri dari beberapa kolom yang harus diisi yang di dalammnya termuat informasi detil dari gambar-gambar yang sudah direkam pada tahap sebelumnya. Dari daftar logging itulah kemudian seorang pembuat film dokumenter kemudian menyusun editing script. Editing script dibuat berdasarkan alur cerita yang sudah dibuat sebelumnya dengan memperhatikan perubahan-perubahan yang terjadi pada masa pengambilan gambar.

Perlu diperhatikan bahwa pada tahap ini seorang pembuat film dokumenter sebenarnya sedang melakukan kategorisasi atas data-data audio visual yang dikumpulkannya pada tahap pengambilan gambar. Kategorisasi tersebut tidak hanya berdasarkan pada waktu pengambilan dan lokasi shooting tapi juga kategori yang sudah memilah-milah mana gambar yang dianggap penting dan menunjang pada cerita dan mana gambar-gambar yang tidak terlalu penting ataupun tidak penting sama sekali sehingga perlu disingkirkan. Butuh kerelaan dalam hal ini karena proses ini memungkinakan adanya data visual yang secara teknis baik dan sulit diambil namun ternyata tidak terlalu penting dalam struktur cerita.

Dalam tahap ini juga riset masih tetap berlangsung dalam arti pembuat film bisa saja membutuhkan footage atau gambar-gambar tambahan yang tidak mungkin direkam pada tahap shooting. Sebagai contoh adalah footage gambar hidup, foto-foto, atau kliping koran yang menggambarkan kejadian pada masa lalu. Untuk keperluan tersebut pembuat film akan melakukan riset kepustakaan yaitu kegiatan mengumpulkan materi gambar dari sumber lain selain dari kegiatan shooting. Dalam melakukan hal tersebut pembuat film terkadang harus pergi ke perpustakaan, kantor berita, stasiun televisi atau sumber-sumber data lain seperti arsip nasional.




%d blogger menyukai ini: